Home Mengasah Spiritual Mencerdaskan Intelektual: BULETIN
Showing posts with label BULETIN. Show all posts
Showing posts with label BULETIN. Show all posts

2012/06/13

SUKSES SEJATI BERAWAL DARI INSTROSPEKSI DIRI


SUKSES SEJATI BERAWAL DARI INSTROSPEKSI DIRI
(Buletin At-Tajdid, Edisi III, 29 Januari 2010 M / 14 Shafar 1431 H)
BY: Zulkifli, S.Pd.I

Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.
Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering menginginkan agar sekolah kita ini berubah, menjadi sekolah yang maju dan berkualitas layaknya sekolah-sekolah unggulan. Tapi, pada saat yang bersamaan, ternyata kita sendiri tidak mau merubah diri kita, tidak mau memperbaiki sikap dan perilaku kita, tidak mau mentaati peraturan sekolah, tidak mau disiplin, dan tidak mau serius dalam mengembangkan potensi yang kita miliki. Kita hanya bisa mengkritik  kekurangan orang lain meskipun kekurangannya itu sedikit, tetapi kita jarang menyadari kekurangan yang ada pada diri kita, padahal kekurangan kita itu sangat banyak. Ini sesuai dengan peribahasa yang mengatakan “Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”.
Jangankan mengubah Sekolah, mengubah diri kita sendiri saja tidak mampu. Kita sangat menginginkan siswa-siswa berubah, lebih rajin, lebih disiplin, tapi kenapa merubah sikap kita sendiri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang cukup untuk bersungguh-sungguh merubah diri sendiri. Kita hanya sibuk mengkritik orang lain.
Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.
Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang sehebat apapun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.
Pemimpin manapun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses manapun bakal roboh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati.
Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekalipun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar. Calon orang yang sukses sejati.
Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah katapun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.
Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.
Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan sejati diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien ya Rabbal ‘Alamin…
Setelah melihat kekurangan yang ada pada diri kita, maka kita dapat membuat rencana untuk memperbaiki diri. Akan tetapi yang sering menjadi kendala adalah kesalahan persepsi dalam memahami konsep perubahan. Kita sering membuat statement “Gimana kita bisa menjadi guru profesional sementara pemerintah jarang memberikan kita kesempatan untuk pelatihan, seminar, workshop, dan lain sebagainya. Kita hanya mengandalkan orang lain untuk merubah diri kita. Padahal sebenarnya tidak ada seorangpun yang dapat merubah nasib kita kecuali diri kita sendiri. Hal ini sudah ditegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Memang orang lain dapat memberikan andil yang dalam perubahan diri diri, akan tetapi bila kita sendiri tidak mau berubah, bagaimanapun seseorang berusaha merubah kita maka itu akan sia-sia saja. Karena perubahan itu akan terjadi bagi orang-orang yang mau merubah dirinya sendiri.

SISI LAIN DARI HARI RAYA QURBAN


SISI LAIN DARI HARI RAYA QURBAN
(Buletin At-Tajdid, Edisi II, 25 Nopember 2009 M / 8 Dzulhijjah 1430 H)
BY: Zulkifli, S.Pd.I

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar Islam di mana pada hari itu gema takbir, tahmid, taqdis, dan tahlil berkumandang di setiap penjuru dunia Islam sampai menerobos ke angkasa raya. Itu suatu pertanda kebesaran dan keagungan sang Pencipta yaitu Allah SWT.
Ucapan TAKBIR, adalah mendidik hati kaum muslimin agar jangan bersifat angkuh dan sombong, apapun pangkat dan jabatan yang dipikul di atas pundaknya, bagaimanapun banyak harta benda dan kekayaan yang dimiliki, namun dia menyadari bahwa dirinya itu sangat kecil, lemah, dan terbatas. Hanya Allahlah Yang Maha Besar dan Maha Agung.
Ucapan TAHMID, adalah menganjurkan  kita  untuk  senantiasa memuji dan mensyukuri nikmat karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita. Hanya Allahlah yang paling berhak untuk dipuji dan disanjung.
Ucapan TAQDIS, adalah suatu peringatan kepada kita semua sesungguhnya Allah SWT Maha Suci dari sekutu-sekutu-Nya dan Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan. Tidak ada suatu makhluk pun yang bersifat cukup dan sempurnya. Seluruh makhluk adalah faqir karena semuanya sangat berhajat kepada pertolongan dan perlindungan Allah SWT.
Ucapan TAHLIL, adalah mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada Allah SWT di setiap hembusan nafas dan kedipan mata. Tahlil mendidik kita untuk bertauhid atau mengesakan Allah. Tahlil dapat menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan dan memberatkan timbangan amal kebajikan kita.
Hari Raya Idul Adha atau sering disebut hari Raya Qurban, karena pada hari itu sangat dianjurkan kepada kaum muslimin yang memiliki kelebihan untuk melaksanakan ibadah qurban sebagaimana diperintahkan kepada Nabi Ibrahim AS.
Adapun sejarah diperintahkannya berkurban itu dimulai pada masa Nabi Ibrahim AS. Saat itu Nabi Ibrahim AS mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya yang baru menginjak usia remaja. Sebagai seorang ayah yang dikaruniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan, seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, seorang putera yang menjadi buah hati tumpuan harapannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawanya oleh tangan si ayah sendiri.
Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.
Nabi Ismail sebagai anak yang saleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata: "Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."
Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air mata berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengkilat di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan dilakukan. Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya: "Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikan." Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail yang telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.
Penulis yakin bahwa penjelasan di atas sudah sering disampaikan oleh para Khatib di dalam khotbah Idul Adha. Akan tetapi, ada sisi lain yang sering kita lupakan dalam memaknai Hari Raya Qurban yaitu penerapan nilai-nilai qurban di dalam kehidupan kita sehari-hari. Berqurban (baca “berkorban”) tidak hanya terbatas pada harta benda, tapi lebih luas dari itu, berkorban mencakup tenaga, pikiran, dan perasaan.
Berkorban tenaga, berarti kita mengerahkan tenaga yang kita miliki untuk berdakwah demi kemajuan Islam, misalnya: sebagai seorang guru seyogianya mengorbankan tenaganya demi mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Hal ini harus dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah, bukan untuk kenaikan gaji atau penambahan tunjangan.
Berkorban pikiran, sebagai seorang guru, menyumbangkan atau mengorbankan pikiran demi kemajuan pendidikan sudah menjadi hal yang lazim. Dalam proses pembelajaran, seorang guru dituntut untuk berpikir maju dan kreatif demi memperoleh pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan mandiri (PAIKEM).
Begitu juga, sebagai seorang guru mengorbankan perasaan adalah suatu hal yang tak bisa terelakkan karena dalam proses belajar mengajar, pasti terdapat berbagai problem. Baik itu problem yang berasal dari siswa, problem dari sekolah, maupun problem yang datang dari diri guru itu sendiri. Problem-problem itu tidak terhenti di dalam kelas saja, tetapi sering sekali problem-problem itu mengganggu ketenangan seorang guru, menyakiti perasaannya, dan bahkan selalu menjadi beban pikirannya. Sebagai seorang guru yang profesional, hal semacam ini harus disikapi dengan bijak, berpikiran positif, dan mencari solusi-solusi terbaik demi kelancaran proses pembelajaran.
Jangan sampai terjadi sebaliknya, misalnya, seorang guru yang mengajar di sekolah swasta yang notabene gajinya itu “pas-pasan” tidak mau memaksimalkan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan pendidikan di sekolah tersebut. Apalagi sebagai guru negeri yang ditugaskan mengajar di sekolah swasta, kemudian enggan melaksanakan tugas dengan semestinya atau tidak mau bekerja maksimal karena beranggapan bahwa bagaimanapun dia bekerja ekstra, toh juga tidak akan mendapatkan apa-apa dari pihak sekolah, tidak akan menambah gajinya, dan tidak pula dapat menaikkan pangkatnya. Bila virus seperti ini menyerang guru-guru kita di sekolah ini, maka perubahan dan kemajuan sekolah yang selalu kita cita-citakan tidak akan pernah terwujud.
Seyogianya sebagai seorang guru rela mengorbankan tenaga, pikiran, dan perasaannya untuk kemajuan sekolah dengan niat yang ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT. Bukan karena ingin dipuji oleh orang lain, ingin dinaikkan gajinya, atau ingin naik pangkat. Kalau pengorbanan itu kita lakukan dengan ikhlas, insya Allah kita akan mendapatkan ganjaran yang lebih dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita tergolong sebagai hambanya yang mukhlis. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

2012/06/12

SELAGI MASIH BULAN SYAWWAL


SELAGI MASIH BULAN SYAWWAL
(Buletin At-Tajdid, Edisi Perdana, 6 September 2009 M / 17 Syawwal 1430 H)
BY: Zulkifli, S.Pd.I

Syawwal secara bahasa berarti peningkatan. Dari arti ini dapat dimaknai bahwa bulan Syawwal adalah bulan peningkatan amal kebajikan. Pada bulan Ramadhan kita sudah membakar semua dosa dan kejelekan dengan amal kebajikan yang kita lakukan pada bulan tersebut seperti puasa sebulan penuh, shalat tarawih dan shalat witir setiap malam, tadarrus Al-Qur’an dan beri’tikaf di masjid. Semua amal kebajikan  ini dapat menghapus dosa-dosa kita dan dapat membersihkan kita dari sifat-sifat tercela.
Setelah kita membersihkan diri dari semua dosa dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela selama bulan Ramadhan, maka tibalah saatnya pada bulan Syawwal ini, kita berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan amal kebajikan kita baik kualitas maupun kuantitasnya.
Bulan Syawwal adalah bulan peningkatan amal kebajikan. Dikatakan “peningkatan” karena kita dianggap sudah terbiasa melakukan amal kebajikan pada bulan sebelumnya yaitu pada bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan itu, kita berusaha sekuat tenaga untuk melakukan amal shaleh seperti berpuasa, shalat tarawih, shalat witir, shalat tahajjud, tadarrus Al-Qur’an, bersedekah, dan lain sebagainya. Dengan semua amal kebajikan yang kita lakukan di bulan Suci Ramadhan itu, insya Allah, dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT dan kita akan menjadi bersih dari dosa dan noda seperti bayi yang baru lahir, masih suci belum pernah melakukan dosa atau kesalahan apapun. Setelah kita terlahir kembali dalam keadaan suci dari dosa dan noda, maka pada bulan Syawwal ini kita diperintahkan untuk menghias diri dengan meningkatkan amal kebajikan kita dan menjauhi semua perbuatan dosa yang pernah kita lakukan dahulu sebelum bulan suci Ramadhan.
Kalau hal ini kita lakukan, niscaya kita akan menjadi orang-orang yang beruntung. Tapi, kalau kita kembali lagi mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa yang dahulu pernah kita kerjakan sebelum bulan suci Ramadhan, maka kita akan menjadi orang-orang yang rugi.
Sebagai analogi, misalnya seorang cewek yang sudah bekerja keras dari pagi sampai sore hari sehingga pakaiannya menjadi kotor dan tubuhnya penuh keringat. Kemudian setelah sampai di rumah si cewek ini bergegas untuk mandi memakai sabun dan alat pembersih lainnya. Setelah selesai mandi, si cewek ini memakai baju, tentunya ia memakai baju yang bersih bukan baju kotor yang sudah dipakainya bekerja seharian itu. Di samping itu, si cewek ini tidak lupa berhias diri, memakai make up, hand and body lotion, lipstick, dan alat kecantikan lainnya. Ini dilakukan supaya kelihatan lebih bersih dan lebih cantik sehingga kelihatan jauh berbeda pada waktu sebelum ia mandi dan setelahnya. Seandainya si cewek tadi, setelah selesai mandi lalu memakai kembali pakaian kotor yang sudah dipakainya bekerja seharian itu dan ia juga tidak berhias diri, tidak memakai make up, hand and body lotion, lipstick, atau alat kecantikan lainnya, maka orang-orang akan mengira bahwa si cewek itu belum mandi dan tidak bisa menjaga kebersihan dan kecantikan dirinya. Di samping itu, orang-orang juga akan mengatakan cewek itu kotor sekali, cewek itu kampungan, teman-temannya pasti akan menjauhinya dan cowok-cowok pasti tidak mau mendekati apalagi naksir kepadanya.
Orang yang membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa pada bulan suci Ramadhan, kemudian kembali lagi melakukan perbuatan-perbuatan dosa tersebut di bulan Syawwal, maka tak ubahnya seperti seseorang yang kotor badan dan pakaiannya, kemudian mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu, ia kembali lagi memakai pakaian yang kotor tadi dan melakukan aktifitas yang dapat membuatnya kotor kembali.
Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan baik-baik uraian singkat tentang makna bulan Syawwal di atas.
Seandainya kita dapat mengaplikasikan makna dari bulan Syawwal tersebut dalam proses pembelajaran, insya Allah Pondok Pesantren kita ini akan semakin maju dan dapat bersaing dengan sekolah-sekolah negeri.
Misalnya kita selaku guru yang dulunya mungkin sering datang terlambat, tidak disiplin dan kurangnya kesadaran untuk mengembangkan serta memajukan pondok kita ini, bekerja jika dan hanya jika diawasi oleh atasan atau guru lain, maka tibalah saatnya, mulai hari ini kita berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kedisiplinan kita, berusaha untuk datang tepat waktu, bekerja dengan kesadaran diri meskipun tidak ada yang mengawasi atau mengetahui kebaikan yang kita lakukan karena Allah Maha Tahu dan Maha Mengawasi.
Begitu juga bagi santri-santriwati khususnya di Pondok Pesantren Al-Raisiyah ini, diharapkan untuk meningkatkan kedisiplinannya, datang dan pulang sesuai jadwal, berdoa sebelum dan setelah selesai belajar, membersihkan kelas setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, menghormati guru, mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan guru yang ditemuinya, dan yang terpenting bagi santri-santriwati adalah belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh.
Demikianlah yang dapat penulis uraikan dalam buletin ini, Selagi Masih Bulan Syawwal, mari kita meningkatkan amal kebajikan kita, wa bil khusus kinerja kita untuk meningkatkan mutu pendidikan di pondok kita tercinta ini. 
Akhirnya, sebagai insan biasa penulis tetap menyadari bahwa tidak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan karya-karya tulis berikutnya. Dan semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi bekal bagi kita semua dalam menata hidup yang lebih baik selama sebelas bulan ke depan. Amien Yaa Rabbal Aalamiin.
Wallahu A’lamu Bishshawab.

URGENSI HIDUP BERSIH DALAM PANDANGAN ISLAM


URGENSI HIDUP BERSIH DALAM PANDANGAN ISLAM
(Buletin FORTUNES, Edisi Perdana, 17 Desember 2009 M / 30 Dzulhijjah 1430 H)
Zulkifli, S.Pd.I

Alhamdulillah, agama Islam merupakan agama yang diridoi oleh Allah SWT. Agama Islam dijadikan sebagai rahmat bagi semesta alam. Setiap perbuatan yang diperintahkan ataupun dianjurkan di dalam Islam, bila dikerjakan pasti mengandung dampak yang positif bagi kehidupan umat manusia. Segala perintah itu ditujukan untuk kebaikan dan kepentingan manusia itu sendiri. Ada yang dirasakan secara langsung di dunia ini, ada juga yang akan dinikmati hasilnya kelak di Hari Akhir. Sebaliknya segala perbuatan yang dilarang, jika dilakukan pasti berdampak negatif bagi si pelaku khususnya dan berefek negatif juga bagi kehidupan manusia pada umumnya.
Salah satu hal yang diperintahkan oleh Islam adalah hidup bersih. Hidup bersih merupakan perbuatan yang mulia dan sangat ditekankan di dalam Islam. Coba kita cermati dengan baik, hampir semua kitab fiqih yang pernah kita pelajari selalu dimulai dengan bab ATH-THAHARAH atau BERSUCI. Ini menunjukkan betapa pentingnya bersuci atau hidup bersih menurut pandangan Islam. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas URGENSI HIDUP BERSIH DALAM PANDANGAN ISLAM.
Kata “SUCI” memiliki makna yang lebih luas dari pada kata “BERSIH”. Semua yang tergolong bersih belum tentu dapat dikatakan suci, tapi semua yang dikatakan suci pasti tergolong bersih.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa untuk mencapai KESUCIAN kita harus menjalani HIDUP BERSIH. Baik bersih secara lahir ataupun bathin. Kesucian di sini bukan berarti hidup tanpa dosa ataupun kesalahan. Namun, yang penulis maksudkan adalah bila terdapat perintah bersuci, maka secara otomatis kita harus melakukan kebersihan terlebih dahulu, setelah itu baru kita melakukan perbuatan bersuci. Sebagai contoh, kita hanya diperintahkan bersuci (dengan berwudhu’) sebelum melaksanakan shalat. Namun dalam pelaksanaannya, kita harus membersihkan diri terlebih dahulu dari segala kotoran yang menempel di tubuh kita.
Terdapat berbagai masalah yang muncul di lingkungan kita, seperti: pembuangan sampah di jalanan, di selokan-selokan, dan di sungai-sungai, puya’-puya’ yang berserakan. Sehingga masalah seperti ini sering menimbulkan banjir. Oleh sebab itu, marilah kita menjaga kebersihan lingkungan kita khususnya yang ada di Sekarbela ini. 
Di dalam Islam kebersihan sangat dianjurkan, bahkan kebersihan itu dijadikan salah satu syarat kesempurnaan iman seseorang, sehingga di dalam beberapa Ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi dijelaskan tentang hal ini. Di antaranya adalah Firman Allah:
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Nabi bersabda:
الطهور شطر الإيمان
“Kesucian itu sebagian dari iman.”
Oleh karena itu, marilah even tahun baru ini kita jadikan untuk memperbaiki diri, menjaga  kebersihan lingkungan dan berperilaku hidup bersih.

RENUNGAN
Setiap manusia harus menghabiskan sebagian waktu hariannya untuk tidur. Tidak peduli seberapa banyaknya pekerjaan yang ia miliki atau hindari, ia tetap akan jatuh tertidur dan berada di tempat tidur selama + 8 jam per hari. Karenanya, manusia sadar hanya 16 jam sehari; ia menghabiskan sisa waktunya rata-rata 8 jam per hari dalam ketidaksadaran total. Jika dinilai dari sisi ini, kita menjumpai gambaran yang mengejutkan: 1/3 dari rata-rata umur kita dihabiskan untuk tidur. Seandainya Allah memberikan Anda jatah hidup selama 60 tahun. Ini berarti 20 tahun dari umur Anda dihabiskan untuk sekedar tidur. Tidakkah Anda merenungkan fakta ini, tidak pernahkah Anda menyadari bahwa ia meninggalkan segala yang Anda anggap penting di dunia ini. Ujian yang penting, banyaknya uang yang hilang dalam berbisnis atau permasalahan pribadi, singkatnya segala yang tampak penting sehari-hari menghilang begitu seseorang tertidur. Singkatnya, hal ini berarti kehilangan hubungan sepenuhnya dengan dunia.
Dalam perenungan selanjutnya, Anda akan terkejut dengan panjangnya waktu yang Anda habiskan untuk makan, minum, nonton TV, merawat tubuh, atau bekerja untuk mendapat standar hidup yang lebih baik.
Tidak diragukan lagi, perhitungan waktu yang Anda habiskan untuk tugas rutin yang penting untuk hidup patut dipikirkan. Seperti dinyatakan sebelumnya, selama 20 tahun dari 60 tahun waktu hidup dihabiskan untuk tidur. 10 tahun awal dari 40 tahun sisanya, Anda habiskan dalam masa kanak-kanak, masa yang juga dilewati dalam keadaan yang hampir tidak sadar. Dengan kata lain, seorang berusia 60 tahun sudah menghabiskan separuh hidupnya atau selama 30 tahun tanpa kesadaran. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk makan dan minum, nonton TV, merawat tubuh dan lain-lain. Misalnya untuk “tugas rutin” makan dan minum, Anda menghabiskan 2 jam perhari, itu berarti 1/12 hidup ini Anda habiskan untuk sekedar memenuhi tugas rutin makan dan minum saja. Bila dikalkulasikan, maka 1/12 dari 60 tahun atau sama dengan 5 tahun hidup Anda, Anda habiskan untuk sekedar makan dan minum saja. Ini berarti umur Anda yang tersisa tinggal 25 tahun.  
Kemudian untuk kegiatan mandi dan gosok gigi, misalnya Anda memerlukan waktu selama 2 jam per hari berarti 1/12 dari hidup ini lagi-lagi Anda habiskan untuk sekedar tugas “wajib” yang rutin. Berarti jatah hidup Anda tinggal 20 tahun. Belum lagi untuk nonton TV, bila setiap harinya Anda menghabiskan 2 jam untuk nonton TV, maka umur Anda yang tersisa hanya 15 tahun. Mengenai sisa umur Anda yang tinggal 15 tahun itu, tersedia banyak aktifitas yang lain seperti untuk menyiapkan makanan, jalan-jalan, nongkrong, shopping atau terjebak kemacetan. Seandainya aktifitas-aktifitas yang tak direncanakan ini kita rata-ratakan dapat menghabiskan waktu 2 jam per hari, maka Anda akan terkejut, umur Anda yang tersisa yang dapat Anda gunakan untuk kebaikan hanya 10 tahun dari perjalanan panjang hidup Anda selama 60 tahun.
Bagaimana jika Anda tidur lebih banyak, suka bermalas-malasan, nonton TV lebih dari 2 jam, sering nongkrong, hoby shopping, senang jalan-jalan, banyak ngobrol, sering sms-an atau telpon-telponan. Kemudian Anda diberikan jatah hidup hanya 40 tahun, 30 tahun, 20 tahun atau mungkin lebih singkat dari itu. Maka berapa tahunkan umur yang dapat Anda gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat? 5 tahunkah? 4 tahunkah? 3 tahunkah? 2 tahunkah? Atau mungkin hanya 1 tahun? Maka berhentilah sejenak dan RENUNGKAN…!!!
Selanjutnya silahkan Anda renungkan kembali seandainya Anda diberikan jatah hidup jauh lebih singkat dari itu, atau umur Anda tinggal satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari, atau satu jam lagi, maka apa yang dapat Anda perbuat? Bahkan mungkin juga Anda meninggal sebelum Anda Beranjak dari tempat duduk Anda… RENUNGKANLAH…!!!