Home Mengasah Spiritual Mencerdaskan Intelektual: PERGERAKAN NW DI LOMBOK

2013/02/28

PERGERAKAN NW DI LOMBOK

TGKH. MUHAMMAD  ZAINUDDIN ABDUL MAJID DAN PERGERAKAN NAHDLATUL WATHAN DI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT
Oleh: Zulkifli, S.Pd.I

PENDAHULUAN
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid merupakan salah satu ulama besar yang sangat berpengaruh di pulau Lombok. Beliau bersama dua sahabatnya –TGH. Shaleh Hambali Bengkel dan TGH. Muhammad Ra’is Sekarbela- adalah tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pendidikan Islam dan pengajian kitab kuning di Lombok. Di samping berdakwah, beliau juga mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama “Nahdlatul Wathan”, yang kemudian disingkat menjadi “NW”. Organisasi NW ini merupakan satu-satunya organisasi terbesar yang bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan yang didirikan oleh seorang putra daerah, asli suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat. Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam mengembangkan organisasi NW ini tidak terbatas di pulau Lombok saja, beliau juga mendirikan NW di Sumbawa, Bima, Dompu, bahkan sampai ke luar Nusa Tenggara Barat, yaitu Bali, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, sampai ke Jakarta.
Kiprah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam dunia pendidikan Islam tidak diragukan lagi. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Nahdlatul Wathan Pancor Lombok Timur, pondok pesantren terbesar di NTB. Selain itu, beliau juga mendirikan pondok pesantren- pondok pesantren di bawah naungan NW yang tersebar di seluruh kabupaten di Pulau Lombok, baik Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, maupun Mataram. Lembaga pendidikan di bawah naungan NW mencakup semua jenjang pendidikan, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, sampai Perguruan Tinggi.
Dalam perkembangannya, organisasi NW tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi mulai masuk ke ranah politik dan pemerintahan. Lembaga-lembaga eksekutif di propinsi NTB banyak diisi oleh orang-orang NW dan sekarang adalah puncak keberhasilan NW dalam bidang politik dan pemerintahan, yaitu dengan terpilihnya Dr. TGH. Muhammad Zainul Madji, MA, cucu dari TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, sebagai Gubernur NTB saat ini. Beliau adalah Gubernur termuda di Indonesia.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas tentang “TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan Pergerakan Nahdlatul Wathan di Lombok Nusa Tenggara Barat” dalam makalah ini.

BIOGRAFI TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID
Al-Mukarram Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (disingkat menjadi Hamzanwadi = Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) dilahirkan di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1316 H. bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 M dari perkawinan TGH. Abdul Majid (beliau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Mukminah atau Guru Minah) dengan seorang wanita shalihah bernama Hajjah Halimah al-Sa'diyah.[1]
Nama kecil beliau adalah 'Muhammad Saggaf', nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik untuk dicermati, yakni tiga hari sebelum beliau dilahirkan, ayah beliau, TGH. Abdul Majid, didatangi dua orang waliyullah masing-masing dari Hadramaut dan Magrabi. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni "Saqqaf". Kedua waliyullah itu berpesan kepada TGH. Abdul Majid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama "Saqqaf" yang artinya "tukang memperbaiki atap". Kata "Saqqaf" di Indonesia-kan menjadi "Saggaf" dan untuk dialek bahasa Sasak menjadi "Segep". Itulah sebabnya beliau sering dipanggil dengan "Gep" oleh ibu beliau, Hajjah Halimah al-Sa'diyah.[2]
Setelah menunaikan ibadah haji, nama kecil beliau tersebut diganti dengan 'Haji Muhammad Zainuddin'. Nama ini pun diberikan oleh ayah beliau sendiri yang diambil dari nama seorang ulama besar yang mengajar di Masjid al-Haram. Akhlak dan kepribadian ulama besar itu sangat menarik hati sang ayah. Nama ulama besar itu adalah Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak, dari Serawak, Malaysia.[3]
Sejak kecil al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid terkenal sangat jujur dan cerdas. Karena itu tidaklah mengherankan bila ayah-bundanya memberikan perhatian istimewa dan menumpahkan kasih sayang begitu besar kepada beliau. Ketika berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk melanjutkan studi, ayah-bundanya ikut mengantar ke Tanah Suci. Ayahnya-lah yang mencarikan guru tempat beliau belajar pertama kali di Masjidil Haram dan sempat menemani beliau di Tanah Suci sampai dua kali musim haji. Sedangkan ibunya Hajjah Halimatus Sa'diyah ikut bermukim di Tanah Suci mendampingi dan mengasuh beliau sampai ibunya tercintanya itu berpulang ke rahmatullah tiga setengah tahun kemudian dan dimakamkan di Mu'alla Mekah.[4]
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid wafat pada hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 20 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah.[5]

PERJALANAN PENDIDIKAN TGKH. M. ZAINUDDIN
Pengembaraan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji (membaca Al-qur'an) dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahnya, yang dimulai sejak berusia 5 tahun.
Setelah berusia 9 tahun, ia memasuki pendidikan formal yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, beliau kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk menuntut ilmu agama yang lebih luas dari beberapa Tuan Guru lokal, antara lain TGH. Syarafudin dan TGH. Muhammad Sa'id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari desa Kelayu, Lombok Timur. Ketiga guru agama ini mengajarkan ilmu agama dengan sistem halaqah, yaitu para santri duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru membaca kitab yang sedang dipelajari, kemudian masing-masing murid secara bergantian membaca.[6]
Untuk lebih memperdalam ilmu agama, Muhammad Zainuddin remaja berangkat menuntut ilmu ke Mekah diantar kedua orang tuanya, tiga orang, kemenakan dan beberapa orang keluarga, termasuk pula TGH. Syarafuddin. Pada saat itu beliau berusia 25 tahun, yaitu menjelang musim Haji tahun 1341 H/1923 M. Sesampai di Tanah Suci, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid langsung mencari rumah kontrakan di Suqullail, Mekah.
Beberapa hari setelah musim Haji usai, TGH. Abdul Majid mulai sibuk mencarikan guru buat anaknya. Sampailah pencarian TGH. Abdul Majid pada sebuah halaqah. Syaikh yang mengajar di lingkaran tersebut bernama Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjidil Haram, yang saat itu berusia sekitar 50 tahun. Disanalah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid diserahkan untuk belajar.
Selain itu juga sempat belajar ilmu sastra pada ahli syair terkenal di Mekah, yakni Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi dan pada saat itu berkenalan dengan Sayyid Muhsin Al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di Madrasah al-Shaulatiyah.[7]
Selanjutnya, selang beberapa tahun, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid melanjutkan pendidikannya di Madrasah al-Shalatiyah. Beliau masuk Madrasah al-Shaulatiyah pada tahun 1345 H (1927 M) yang waktu dipimpin (Mudir/Direktur) Syaikh Salim Rahmatullah yang merupakan cucu pendiri Madrasah al-Shaulatiyah.
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap thullab yang masuk di Madrasah Al-Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi thullab. Demikian pula dengan TGKH. Muhammad Zainuddin, juga ditest terlebih dahulu. Secara kebetulan diuji langsung oleh Direktur al-Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.
Hasil test menentukan di kelas 3. mendengar keputusan itu, TGKH. Muhammad Zainuddin minta diperkenankan masuk kelas 2 dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran ilmu Nahwu dan Sharaf. Semula Syaikh Hasan bersikeras agar TGKH. Muhammad Zainuddin masuk kelas 3, tetapi pada akhirnya melunak dan mengabulkan permohonan untuk masuk kelas 2 dan sejak itu TGKH. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah al-Shaulatiyah mulai dari kelas 2.[8]
Prestasi akademiknya sangat istimewa. Beliau berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9.
Sahabat sekelas TGKH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah Bila, mengakui kejeniusannya dan mengatakan:
“Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku, kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi, di kala saya dan dia bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah Ash-Shaulatiyah Makkah. Saya sungguh menyadari akan hal ini. Syaikh Zainuddin adalah manusia ajaib dikelasku karena kegeniusannya yang sangat tinggi. Syaikh Zainuddin adalah ulama’ dan mujahid (pejuang) agama, nusa dan bangsanya. Saya tahu, telah berapa banyak otak manusia diukirnya, telah berapa banyak kader penerus agama, nusa bangsa yang dihasilkannya. Saya tahu, dia adalah mukhlis (orang ikhlas) dalam berjuang menegakkan iman dan taqwa di negerinya, rela berkorban, cita-citanya luhur. Dia memiliki kelebihan di kalangan teman-teman segenerasinya. Kelebihan yang dia miliki selain yang saya sebutkan tadi, yaitu dia selalu mendapat doa restu dari guru-guru kami, ulama’-ulama’ besar di tanah suci Makkah Al Mukarramah, utamanya Maulanasy Syaikh Hasan Muhammad Al Masysyath”.[9]
Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah Al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Mekah, yaitu Al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah al-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah. Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid menyelesaikan studi di Madrasah al-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H dengan predikat "mumtaz" (Summa Cumlaude).
Setelah tamat dari Madrasah al-Shaulatiyah, tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Mekah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Mekah adalah 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Mekah sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.
Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah dan kembali ke tanah air, TGKH. Muhammad Zainuddin langsung melakukan safari dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya 'Tuan Guru Bajang'. Semula, pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941. [10]

KARYA-KARYA TGKH. M. ZAINUDDIN
Al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid selaku ulama' pewaris para Nabi, di samping menyampaikan dakwah bi al-hal wa bi al-lisan, juga tergolong penulis dan pengarang yang produktif. Bakat dan kemampuan beliau sebagai pengarang ini tumbuh dan berkembang sejak beliau masih belajar di Madrasah Shaulatiyah Mekah. Namun karena banyaknya dan padatnya kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan yang harus diisi maka peluang dan kesempatan untuk memperbanyak tulisan tampaknya sangat terbatas. Kendatipun demikian di tengah-tengah keterbatasan waktu itu, beliau masih sempat mengarang beberapa kitab, kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sasak.[11]
Dalam bahasa Arab
  • Risalah al-Tauhid
  • Sullam al-Hija Syarah Safinah al-Naja
  • Nahdlah al-Zainiah
  • At Tuhfah al-Amfenaniyah
  • Al Fawakih al-Nahdliyah
  • Mi'raj al-Shibyan ila Sama'i Ilm al-Bayan
  • Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah
  • Nail al-Anfal
  • Hizib Nahdlatul Wathan
  • Hizib Nahdlatul Banat
  • Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan
  • Shalawat Nahdlatain
  • Shalawat Nahdlatul Wathan
  • Shalawat Miftah Bab Rahmah Allah
  • Shalawat al-Mab'uts Rahmah li al-‘Alamin
Dalam bahasa Indonesia dan Sasak
  • Batu Ngompal
  • Anak Nunggal
  • Taqrirat Batu Ngompal
  • Wasiat Renungan Masa I dan II
Nasyid/Lagu Perjuangan
  • Ta'sis NWDI
  • Imamuna al-Syafi'i
  • Ya Fata Sasak
  • Ahlan bi Wafid al-Zairin
  • Tanawwar
  • Mars Nahdlatul Wathan
  • Bersatulah Haluan
  • Nahdlatain
  • Pacu Gama'
  • dan lain sebagainya.

PENGERTIAN DAN SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL WATHAN
Nahdlatul Wathan secara harfiah berarti pergerakan tanah air. Menurut istilah ialah meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan Islam, mengajak dan membimbing mereka untuk mempelajari ajaran agama dan mengembangkannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar melalui dakwah islamiyah, serta mempersiapkan generasi bangsa muslim untuk membangun tanah  air, bangsa, dan negara dalam rangka mencapai masyarakat yang adil.[12]
Sehubungan dengan itu, maka alenia pertama dari mukaddimah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) organisasi Nahdlatul Wathan menyebutkan bahwa: Dengan motivasi cita-cita luhur menegakkan kalimat Allah, kemuliaan Islam dan kaum muslimin (li I’la’i kalimatillah ‘izzil Islam wal muslimin) hanya dapat dicapai dengan mempertahankan keutuhan persatuan dan kesatuan ummat dalam tatanan suatu organisasi kemasyarakatan yang menjadi wadah untuk menghimpun semua potensi kekuatan ummat dalam kesatuan visi dan persepsi sebagai nuansa dalam membangun segala aspek kehidupan secara seimbang lahir dan bathin dengan landasan moral Islam.[13]
Motivasi itu bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW yang kaffah, universal dan rahmatan lil alamin, yang menjadi sumber inspirasi dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat melalui kekuatan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu, organisasi Nahdlatul Wathan adalah salah satu organisasi agama yang tumbuh dan berkembang sebagai kekuatan Islam yang bertekad untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, dengan berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, berbudi pekerti luhur dengan akhlaqul karimah. Meningkatkan kecerdasan ummat, kesejahteraan lahir bathin, memelihara persatuan dan kesatuan baik dalam pergaulan intern organisasi, maupun ummat Islam secara keseluruhan, serta dengan semangat juang fi sabilillah akan terus berusaha menghidupsuburkan dan menumbuhkembangkan syari’at Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan kepada “Aqidah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’i ra” yang bersumber dari al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW yang shahih.[14]
Organisasi Nahdlatul Wathan berawal dari madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang lahir pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1937 di Pancor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. [15] Akan tetapi, Nahdlatul Wathan dideklarasikan sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H/ 1 Maret 1953 M, di Pancor Kabupaten Lombok Timur Propinsi NTB. Kemudian diakui oleh pemerintah RI sebagai organisasi kemasyarakatan dengan akte pertama nomor: 78 tahun 1960 dan terdaftar pada Menteri Kehakiman Republik Indonesia nomor: J. A3/105/5 yang dimasukkan sebagai tambahan lembaran berita negara Republik Indonesia nomor: 96 tanggal 8 September 1960.[16]
Sadar akan besarnya potensi ummat Islam secara kuantitas yang mencapai 94 % khusus di Pulau Lombok dan umumnya di NTB, maka keberadaan organisasi masa agama seperti NW sangat diperlukan kehadirannya. Sebab dengan adanya organisasi Islam ini diharapkan akan mampu menghimpun kekuatan dan potensi ummat Islam yang jumlahnya sedemikian besar, untuk dapat diorganisir dan dikelola dengan manajemen yang bernuansa Islam dan berorientasi kepada pemberdayaan potensi ummat yang berkualitas dengan landasan iman dan taqwa.
Dengan organisasi NW diharapkan akan dapat mempersatukan visi dan persepsi ummat dalam berbagai program yang hendak dicanangkan dan direncanakan melalui upaya-upaya sistematis dalam pengembangan misi organisasi agar dapat tetap bergerak dalam dunia pendidikan, sosial dan dakwah Islamiyah.[17]

I’TIQAD DAN MADZHAB NAHDLATUL WATHAN
Adapun I’tiqad yang dijadikan landasan dasar aqidah dari organisasi NW adalah I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA), yang berarti berpegang teguh kepada dasar-dasar dan pokok-pokok aqidah Rasulullah SAW yang dianut oleh para sahabat terutama al-Khulafaur Rasyidin yang empat, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan radhiyallahu anhum dan Ali bin Abi Thalib karramalluhu wajhah yang tidak pernah bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulnya.
Sedangkan madzhab fiqhiyah yang dijadikan dasar organisasi dalam menjalankan syari’ah Islam secara inklusif bagi para pengikut Nahdlatul Wathan adalah madzhab Syafi’i. Dalam pengertian bahwa organisasi ini akan terus mengacu kepada prinsip-prinsip dasar al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW yang integral dan komprehensif, artinya sepanjang masih ada ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, tidak pernah digunakan rujukan-rujukan alternatif seperti ijma’, qiyas, ataupun fatwa-fatwa ulama.[18]
Standar fiqhiyah yang digunakan oleh pendiri organisasi ini adalah Madzhab Syafi’i dengan konsekuen dan bertanggung jawab mengikuti metode berpikirnya Imam Syafi’i, sebagaimana perkataan Imam Syafii’i:
إذا صح الحديث فهو مذهبي
Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.

PERGERAKAN NAHDLATUL WATHAN DI LOMBOK NTB
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid belajar di Tanah Suci Mekah selama 13 tahun kemudian kembali ke Indonesia atas perintah dari guru beliau yang paling dikagumi, yakni Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, pada tahun 1934. Sekembali dari Tanah Suci Mekah ke Indonesia mula-mula beliau mendirikan pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M. kemudian pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/17 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemudian pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut diabadikan menjadi nama pondok pesantren 'Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan'. Istilah 'Nahdlatain' diambil dari kedua madrasah tersebut. Beliau aktif berdakwah keliling desa di Pulau Lombok dan mengajar.[19]
Pada tahun 1952, madrasah-madrasah cabang NWDI-NBDI yang didirikan oleh para alumni di berbagai daerah telah berjumlah 66 buah. Maka untuk mengkoordinir, membina dan mengembangkan madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H/1 Maret 1953 M. sampai dengan tahun 1997 lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh Organisasi Nahdlatul Wathan telah berjumlah 747 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, begitu juga lembaga sosial dan dakwah islamiyah Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB melainkan juga diberbagai daerah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya.[20]
Pada zaman penjajahan, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama "Gerakan al-Mujahidin". Gerakan al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia.
Dan pada tanggal 7 Juli 1946, TGH. Muhammad Faizal Abdul Majid adik kandung Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, dalam penyerbuan ini gugurlah TGH. Muhammad Faisal Abdul Majid bersama dua orang santri NWDI sebagai Syuhada' sekaligus sebagai pencipta dan penghias Taman Makam Pahlawan Rinjani Selong, Lombok Timur.[21]
Al Mukkarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid sebagai ulama' pemimpin ummat, dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa telah mengemban berbagai jabatan dan menanamkan berbagai jasa pengabdian, di antaranya[22]:
  • Pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin
  • Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI
  • Pada tahun 1943 mendirikan madrasah NBDI
  • Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok
  • Pada tahun 1946 pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur
  • Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Haji dari Negara Indonesia Timur
  • Pada tahun 1948/1949 menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi
  • Pada tahun 1950 Konsulat NU Sunda Kecil
  • Pada tahun 1952 Ketua Badan Penaseha Masyumi Daerah Lombok
  • Pada tahun 1953 mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun1953 Ketua Umum PBNW Pertama
  • Pada tahun 1953 merestui terbentuknya parti NU dan PSII di Lombok
  • Pada tahun 1954 merestui terbentuknya PERTI Cabang Lombok
  • Pada tahun 1955 menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I (1955)
  • Pada tahun 1964 mendiriakn Akademi Paedagogik NW
  • Pada tahun 1964 menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung
  • Pada Tahun 1965 mendirikan Ma'had Dar al-Qu'an wa al-Hadits al-Majidiyah Asy-Syafi'iyah Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun 1972-1982 sebagai anggota MPR RI hasil pemilu II dan III
  • Pada tahun 1971-1982 sebagai penasihat Majlis Ulama' Indonesia (MUI) Pusat
  • Pada tahun 1974 mendirikan Ma'had li al-Banat
  • Pada Tahun 1975 Ketua Penasihat Bidang Syara' Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (sampai 1997)
  • Pada tahun 1977 mendirikan Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan STKIP Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1982 mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi
  • Pada tahun 1987 mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
  • Pada tahun 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi
  • Pada tahun 1990 mendirikan Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1994 mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri
  • Pada tahun 1996 mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi
Oleh karena jasa-jasa beliau itulah, maka pada tahun 1995 beliau dianugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang Pembangunan oleh pemerintah. Disamping itu, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid selaku seorang mujahid selalu berupaya mengadakan inovasi dalam gerakan perjuangannya untuk meningkatkan kesejahteraan ummat demi kebahagian di dunia maupun di akhirat.
Di antara inovasi/rintisan-rintisan beliau adalah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama Islam di NTB dengan sistem madrasi, membuka lembaga pendidikan khusus untuk wanita, meyelenggarakan pengajian umum secara bebas, mengadakan gerakan doa dengan berhizib, menciptakan tariqat, yakni Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, membuka sekolah umum di samping sekolah agama (madrasah), menyusun nazam berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia, dan lain-lain.[23]
Ini semua adalah perjuangan keras beliau sejak mendirikan Nahdlatul Wathan, yang pada awalnya berbentuk lembaga pendidikan. Kemudian berkembang menjadi organisasi keagamaan, yang selanjutnya juga bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan dunia perpolitikan.
Adapun pergerakan NW dalam bidang pendidikan sudah sangat jelas, yaitu dengan berdirinya berbagai pondok pesantren, sekolah dan madrasah di bawah naungan NW. Pusat pendidikan NW berada di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor Lombok Timur.  Akan tetapi kemudian pecah menjadi dua yaitu NW Pancor dan NW Anjani. Masing-masing pondok pesantren ini dipengang oleh dua putri dari TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang berlainan ibu, yaitu Siti Rauhun dan Siti Raihanun. Siti Rauhun putri dari perkawinan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dengan Hajjah Zohariyah dan Siti Raihanun putri yang diperoleh dari hasil perkawinannya dengan Hajjah Siti Rahmah.[24]
Pondok Pesantren NW Pancor dipengang oleh Nyai Hajjah Rauhun dan dipimpin oleh putra beliau Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA sampai sekarang. Sedangkan pondok pesantren NW Anjani dipengang oleh Nyai Hajjah Raihanun dan dipimpin sampai sekarang oleh putra beliau TGH. L. Muhammad Zainuddin Ats-Tsani.
Adapun dalam bidang sosial kemasyarakatan dan dakwah islamiyah, organisasi Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya.
Organisasi NW juga bergerak dalam dunia perpolitikan. Saat ini merupakan puncak keberhasilan organisasi NW dalam bidang politik, yaitu dengan terpilihnya Dr. TGH. Muhammad Zainul Madji, MA, cucu dari TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid –pendiri NW-, sebagai Gubernur NTB sejak tahun 2008 sampai sekarang. Beliau adalah Gubernur termuda di Indonesia.[25]




PENUTUP
Demikianlah sejumlah pokok pikiran yang telah dipaparkan tentang TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan organisasi Nahdlatul Wathan yang beliau wariskan kepada warga Indonesia secara umum dan masyarakat NTB khususnya. Jasa besar beliau sebagai ulama pembimbing dan pengayom ummat akan tetap diingat sepanjang masa. Beliau habiskan masa hidupnya hanya untuk menegakkan ajaran agama Allah,  membela dan mencapai kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Kaum elit organisasi dan warga besar Nahdlatul Wathan akan semakin dewasa setelah ditinggalkan oleh beliau. Mereka dewasa dalam berpikir, andil dalam bertindak dan bijak dalam memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan organisasi, dan untuk kemaslahatan warga besar NW dan persatuan ummat.
Al-Maghfurlah Maulasy Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid sangat mencintai ummat, beliau persatukan kita dalam suatu wadah, beliau do’akan keselamatan kita dunia akhirat dan beliau maafkan segala kekhilafan kita, baik santri, mutakharrijin, simpatisan NW maupun ummat Islam secara keseluruhan.
Beliau mencintai agama Allah, mencintai setiap orang yang mencintai agama Allah dan mencintai semua usaha dan pemikiran yang membawanya kepada mencintai agama Allah. Demikian kita akan terus berusaha meneladani dan akan meneruskan perjuangan beliau. Kita wariskan perjuangan beliau kepada generasi masa yang akan datang.
Pada akhirnya, perjuangan beliau dalam menegakkan syiar Islam dan pendidikan di bumi Indonesia tidak boleh terhenti begitu saja, namun harus terus dilanjutkan oleh siapa saja, baik ummat muslim Indonesia secara keseluruhan dan masyarakat Sasak pada umumnya, maupun oleh kader-kader Nahdlatul Wathan yang telah dididik melalui lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan serta seluruh warga Nahdlatul Wathan (abituren, pencinta dan simpatisan) pada khususnya.
Pergerakan organisasi Nahdlatul Wathan ini sudah sangat luas, baik dalam bidang pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah, dan sekolah, maupun dalam bidang sosial kemasyarakatan dan dakwah islamiyah, serta masuk juga dalam ranah politik. Pergerakan organisasi NW ini sudah tersebar dan berkembang pesat bukan hanya di NTB melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya. Selain itu organisasi NW bergerak dalam ranah politik, hingga terpilihnya Dr. TGH. Muhammad Zainul Madji, MA, sebagai Gubernur NTB sejak tahun 2008 sampai sekarang.



DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Afifuddin. Tt. Diktat Pelajaran Ke-NW-an. Selong Lombok Timur: Biro Dakwah YPHPPD NW Pancor.
Muhtar, Fathurrahman. 2010. Konflik dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, Disertasi. Surabaya: PPs IAIN Sunan Ampel.
Naji, Rihifuddin. 2001. TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam Potret NW Masa Depan. (Selong Lombok Timur: Biro Dakwah YPHPPD NW Pancor.
Noor, Mohammad dkk. 2004. Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Pemikiran dan Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Tim Penyusun. 2012. Maulana Syaikh dalam Lintasan Sejarah dan Perjuangannya. Lombok Timur: Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits NW Pancor.
Yusuf, Muhammad. 1976. Sejarah Ringkas Perguruan NWDI, NBDI, dan NW. Pancor Selong Lombok Timur NTB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zainuddin_Abdul_Madjid, diakses pada tanggal 31 Oktober 2012.
http://bem-stkiphamzanwadiselong.blogspot.com/2012/07/profile-muhammad-zainuddin-abdul-madjid.html, diakses pada tanggal 5 Nopember 2012.


[1] Mohammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan Religius: Refleksi Pemikiran dan Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004), h. 123.
[3] Ibid.
[4] http://bem-stkiphamzanwadiselong.blogspot.com/2012/07/profile-muhammad-zainuddin-abdul-madjid.html, diakses pada tanggal 5 Nopember 2012.
[5] Tim Penyusun, Maulana Syaikh dalam Lintasan Sejarah dan Perjuangannya (Lombok Timur: Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits NW Pancor, 2012), h. 7.
[7] Ibid.
[10] http://bem-stkiphamzanwadiselong.blogspot.com/2012/07/profile-muhammad-zainuddin-abdul-madjid.html, diakses pada tanggal 5 Nopember 2012.
[12] Rihifuddin Naji, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam Potret NW Masa Depan  (Selong Lombok Timur: Biro Dakwah YPHPPD NW Pancor, 2001), h. 105.
[13] Afifuddin Adnan, Diktat Pelajaran Ke-NW-an (Selong Lombok Timur: Biro Dakwah YPHPPD NW Pancor, tt), h. 11.
[14] Ibid.
[15] Rahifuddin Naji, TGKH. Muhammad Zainuddin…, h. 105-106.
[16] Muhammad Yusuf, Sejarah Ringkas Perguruan NWDI, NBDI, dan NW  (Pancor Selong Lombok Timur NTB, 1976), h. 5. Lihat juga Rahifuddin Jani, TGKH. Muhammad Zainuddin…,  h. 106.
[17] Rahifuddin Naji, TGKH. Muhammad Zainuddin…, h. 106.
[18] Ibid, h. 146.
[20] Ibid.
[21] http://bem-stkiphamzanwadiselong.blogspot.com/2012/07/profile-muhammad-zainuddin-abdul-madjid.html, diakses pada tanggal 5 Nopember 2012.
[23] Ibid.
[24] Fathurrahman Muhtar, Konflik dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, Disertasi (Surabaya: PPs IAIN Sunan Ampel, 2010), h. 2.
[25] Dr. TGH. Muhammad Zainul Madji, MA, atau akrab dipanggil Tuan Guru Bajang diberi penghargaan sebagai Gubernur Termuda di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia diberikan Bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009, lihat http://bem-stkiphamzanwadiselong.blogspot.com/2012/08/bintang-maha-putra-utama-untuk-tgkh-m.html, diakses pada tanggal 3 Desember 2012.

No comments:

Post a Comment